Review Buku: “Journey Of Souls” karya Michael Newton dan Korelasinya dengan Pandangan Ibnu Sina Terkait Konsep Jiwa

Gambar
Saya menemukan sebuah bacaan buku menarik awal tahun ini tentang perjalanan jiwa. Daripada hanya saya simpan dipikiran, akan lebih baik saya bagikan kepada banyak orang untuk direkomendasikan. Olehnya, saya memutuskan untuk membuat review buku ini. Siapa tahu kamu tertarik, kamu dapat membaca catatan bedah buku edisi ke 8 berikut dengan seksama sampai akhir.  Buku yang akan saya bahas adalah; Journey of Souls oleh Michael Newton. Serta sedikit kesinambungannya dengan opini Ibnu Sina mengenai perjalanan jiwa.  Terlebih dahulu mari saya jelaskan kepada kamu siapa itu Michael Newton:  Michael Newton adalah seorang psikolog dan hipnoterapis Amerika yang dikenal karena penelitiannya tentang kehidupan antara kehidupan (Kehidupan antara kehidupan adalah konsep yang mengacu pada periode eksistensi jiwa antara kematian manusia dan kelahiran kembali manusia berikutnya. Jiwa tidak berakhir ketika tubuh mati, melainkan kembali ke dunia spiritual atau yang pada umumny...

Review Buku: “Bukan Eropa; Freud dan Politik Identitas Timur Tengah” karya Edward W. Said

#Reviewbuku_revina7 
#Reviewbuku_revina

***

Ini akan menjadi review buku terpanjang yang akan saya buat di hashtag reviewbuku_revina. Catatan review ini akan berpindah-pindah topik, semoga kamu yang membaca tidak bingung. Jadi, mari kita berselancar bersama. 

Noted; sayang sekali catatan bedah buku saya yang ke 7 ini berhasil tertolak oleh sistem Facebook setelah tiga kali berturut-turut saya berusaha untuk menguploadnya. Saya mengurangi banyak kata yang berpotensi masalah, tapi tetap juga kena. Akhirnya saya putuskan untuk mengupload tulisan review buku kali ini di Blogspot saja. Efek dari penghapusan postingan itu saya terkena pembatasan profil secara permanen dengan tidak bisa mengubah nama halaman selamanya, tidak bisa membuat postingan selama 2 minggu, dan tidak bisa melakukan chat dan berinteraksi di group. Tapi, ya sudahlah, abaikan saja permasalahan ini. Mari kamu saya bawa menyelami dunia dari salah satu buku kesukaan saya yang akan saya bedah sebagai berikut.

___

Pada kesempatan bedah buku kali ini, saya ingin memperkenalkan kalian kepada satu karya yang diangkat dari judul sebuah ceramah yang gagal dikumandangkan oleh seorang penulis, seorang intelektual, kritikus sastra, dan teoretikus budaya berkebangsaan Palestina-Amerika. Ia dikenal karena kontribusinya dalam bidang studi postkolonial dan teori sastra. Salah satu karya terkenalnya adalah "Orientalism", di mana ia membangun perspektif mengenai cara Barat memahami dan merepresentasikan dunia Timur. Dirinya juga merupakan profesor sastra di Universitas Columbia dan termasuk salah satu pendiri bidang studi pascakolonial. 

Pembaca terkasih, saya perkenalkan Anda semua kepada seorang Edward Waide Said.

Saya dibawa oleh waktu untuk bertemu karya spektakuler yang menggambarkan tentang Edward W. Said sebelum ia meninggal dunia. Yang sekaligus menjadi topik utama dari bahasan saya di review buku kali ini yakni buku yang isinya menggambarkan Edward dari sisi berbeda yang berjudul; 

“Bukan Eropa; Freud dan Politik Identitas Timur Tengah” 
Kalau judul buku di atas sudah terdengar asing bagimu, berarti nama Edward W. Said mungkin tidak familiar ditelingamu atau bahkan mungkin bagi beberapa orang. Tapi, tidak masalah. Kamu menemukan review ini di saat yang tepat berarti. 

Bedah buku ke tujuh ini saya peruntukan khususnya bagi kalian yang suka membaca buku-buku tentang konflik peperangan, pandangan tentang kolonialisme, postkolonial, penjelasan komprehensif tentang konflik Israel dan Palestina (tapi, dalam review ini saya tidak akan banyak membahas tentang topik Israel-Palestina lebih dalam), serta seputar perspektif mengenai cara orang-orang Eropa dalam memandang kebudayaan Timur. Kamu bisa menemukan semua itu di setiap karya Edward tanpa terkecuali, bahkan pandangannya menurut saya benar-benar bisa memperluas cakrawala berpikir pembaca. 

Meskipun mungkin kamu tidak punya cakupan pengetahuan yang luas, tenang saja dalam buku ini kamu tidak akan di hakimi apalagi merasa bodoh. Penggalan tulisan-tulisan Edward dengan ciri khas gaya penulisannya yang amat analitis dan kritis, menggabungkan teori-teori sastra dengan kajian kultural dan sejarah yang mana hal itu akan menuntun kamu untuk mengerti arah dan tujuan setiap paragraf dari semua karya tulisnya. Pun, saya bisa pastikan setiap karya-karya beliau adalah sebuah bentuk investasi pengetahuan melalui bacaan yang akan sangat membuatmu menyesal jika tidak membacanya minimal satu kali seumur hidup. 

Secara singkat, buku Bukan Eropa berisi tulisan gabungan perspektif dari Christopher Bollas (Seorang psikoanalis dan penulis yang dikenal karena kontribusinya dalam bidang psikoanalisis kontemporer) yang coba memperkenalkan Edward W. Said, kemudian di susul oleh tulisan Edward yang banyak membahas tentang peran Orientalis, lalu di tutup dengan perspektif Jacqueune Rose (Guru Besar Sastra Inggris di Queen Mary dan Westrreld College, Universitas London) ia menulis sudut pandangnya tentang Edward. Mengingat mereka juga sempat beberapa kali berjumpa, serta beliau juga sama seperti Edward Said—sama-sama orang yang sering diundang untuk bisa menyampaikan ceramah dalam kegiatan tahunan yang dilaksanakan di Wina meskipun memiliki topik pertemuan yang berbeda namun perayaan tahunan tersebut selalu dilaksanakan di hari lahirnya Sigmund Freud. Edward datang untuk peringatan Freud Memorial Lecture, sementara Rose di undang pada acara seratus tahun terbitnya buku The Interpretation of Dreams karya Freud satu tahun sebelum Edward kembali menyambangi museum yang sama.

Izinkan saya bercerita terlebih dahulu hal-hal yang membawa saya bertemu dengan buku-buku Edward W. Said. Pembaca, saya sejak lama memang tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu, apapun itu tanpa terkecuali proses perkembangan manusia baik itu dilihat dari sisi sejarah maupun agama. Kalau kamu pengikut tulisan saya sejak lama, pasti tahu bahwa saya sangat antusias jika membahas prahara civilization. Lebih tepatnya, sesuatu yang menyertai peradaban manusia. 

Ketertarikan saya ini juga berangkat dari keingintahuan saya setelah membaca buku Sejarah Kebudayaan Islam ketika di Madrasah Aliyah Alkhairaat dulu, saya ingat samar-samar isi buku ini mengandung setiap kisah-kisah Dinasti Ottoman/Kesultanan Utsmaniyah, Kekasiaran Bizantium, Dinasti Umayyah, Kekhalifahan Abbasiyah, perebutan konstantinopel antar Kesultanan Utsmaniyah dan Kekaisaran Bizantium. Hingga penaklukan Dinasti Ottoman terhadap beberapa wilayah Eropa, Asia, dan Afrika. Serta masih banyak lagi.

Sebagai salah satu contoh fakta yang saya temukan hasil dari mencari serpihan-serpihan informasi, dan saya cukup yakin fakta ini tidak banyak orang tahu adalah pada kenyataannya peradaban Romawi Kuno dan Yunani Kuno lahir sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW. Jadi, semua nama-nama penguasa Romawi Kuno dan segala macam kisah filsuf Yunani kuno semacam Socrates, Plato, dan Xenophon yang pernah kalian baca itu—lahir jauh sebelum perhitungan masehi ditetapkan. Jika merujuk pada sejarah, Nabi Muhammad lahir pada 570 Masehi, apakah kamu sudah tahu bahwa Socrates diperkirakan para sejarawan lahir tahun 469 SM?! (Note, Sebelum Masehi dan Masehi itu jauh sekali). Apabila merujuk pada pernyataan demikian, maka perhitungan jarak antara kelahiran Socrates dan Nabi Muhammad adalah sekitar 1.039 tahun. Jadi, kalau dipikir-pikir Rasulullah ada di abad ke 6 Masehi, sementara Romawi Kuno dan Yunani Kuno hadir berangsur-angsur dan bertahan dari abad ke-8 SM sampai menuju masa keruntuhannya di 6 Masehi. 

Kalau merujuk dari itu semua, bukankah briliant sekali perjalanan peradaban umat manusia dari abad ke abad dalam mengabadikan semua peninggalan masa lampau?! Satu yang memukau saya yakni orang yang masih berhasil ‘mengisahkan’ beberapa percakapan yang katanya hasil obrolan Socrates dengan para muridnya yang bahkan semua kalimat-kalimatnya terkenal ke seantero dunia—dan dijadikan rujukan cara berpikir masyarakat modern dalam memandang berbagai fenomena dari isu sosial hingga urusan percintaan sekalipun. Tanpa terkecuali cerita turun-temurun tentang Plato, serta segala macam konsep dewa-dewi Yunani Kuno lainnya. 

Di lain sisi, jika dipikir-pikir yang lebih mindblowing kita masih tahu sejarah penaklukan wilayah Eropa dan Asia yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi Kuno yang kejayaannya bahkan melampaui 1.200 tahun lamanya hingga mendekati ke zaman dikirimkannya Rasulullah ke tanah Arab. Sementara yang luar biasanya lagi kita masih terinformasikan siapa saja nama-nama Raja Romawi Kuno dan segala dinamika perebutan kekuasaan dan pergolakan yang di alami Kekaisaran paling berpengaruh di zamannya itu sampai akhirnya runtuh. Romawi Kuno adalah salah satu peradaban terbesar dan berpengaruh di dunia yang bahkan menghasilkan istilah Republik—sebagaimana yang Indonesia gunakan sekarang.

Dan, for your information, apakah kamu tahu saat Nabi Muhammad SAW berdakwah di tanah Arab, di berbagai belahan dunia lainnya telah ada peradaban manusia yang berkembang salah dua di antaranya Dinasti Gupta dan Pala di India serta Dinasti Tang di Tiongkok. It's amazing, isn't it?! Saya malah dulu berpikir bahwa peradaban yang sudah cukup maju di masa dakwahnya Nabi Muhammad itu hanya ada di tanah Arab. Ternyata di sisi dunia yang berbeda, misalnya di Tiongkok sudah ada masyarakat yang sistem pemerintahannya Dinasti, bahkan era Dinasti Tang dianggap sebagai periode keemasan seni dan sastra. Puisi Tang serta seni lukis dan setiap unsur kesusasteraan tumbuh pesat di era itu. Sementara di masa itu Nabi Muhammad SAW bersama segala kemukzijatannya bergulat dengan kejahiliyahan masyarakat Arab dan semua pertentangan yang beliau alami dalam menyebarkan agama Islam. 

Baiklah, ini terlalu jauh, bahasan tentang Yunani Kuno dan Romawi Kuno akan saya tulis di lain waktu, mungkin untuk mengisi edisi ‘Luapan Pikiran’ selanjutnya. Tapi, mari sejenak kembali ke topik utama. 

Buku Edward W. Said menyambangi saya ketika saya sedang giat-giatnya mencari literatur tentang Palestina dan Israel. Saya menemukan beberapa karya majestik Edward, di antaranya yakni; Orientalism, After The Last Sky (Palestinian Live), The Question of Palestine, serta Culture and Imperialisme

Saya pikir kita tahu bersama beberapa hal yang terkandung di dalam proses peradaban itu tentu ada berbagai macam kisah, dari yang terekam oleh sejarah maupun yang luput dari cerita-cerita nenek moyang kita. Edward merupakan satu dari sekian banyak orang di abad 21 yang perspektifnya di akhir cerita membuka pola pikir para akademisi dan orang awam terhadap kolonialisme dan imperialisme yang mana kedua hal tersebut secara langsung menjadi saksi perkembangan peradaban manusia. Salah satu karya tersohor Edward W. Siad yakni bukunya yang berjudul Orientalisme. 

Sedikit hal yang bisa saya gambarkan tentang buku Orientalisme yakni penjelasan bahwa pola pikir bangsa Eropa berhasil mempengaruhi tindakan kolonialisme dan imperialisme, terkhusus dalam buku ini kasus yang senantiasa ia angkat adalah bagaimana pada akhirnya sentimen Barat secara tidak langsung memaksakan identitas kebudayaan Non-Eropa atau secara spesifik kebudayaan Timur untuk seragam dengan apa yang sudah di ajarkan nenek moyang mereka. Sehingga, akulturasi itu bagi mereka hanya akan terjadi di antara bangsa mereka saja, sementara budaya lain dipandang tidak setara dengan apa yang sudah mereka anut turun-temurun. 

Tapi, lagi dan lagi dalam tulisan ini buku Orientalisme tidak akan menjadi topik utama. Sebagaimana yang sudah saya sebutkan di atas, buku yang membahas tentang Edward W. Said yang akan saya review adalah; 

“Bukan Eropa; Freud dan Politik Identitas Timur Tengah”

Buku ‘Bukan Eropa’ berisi penggambaran secara overview dari dua penulis tentang Edward, serta catatan-catatan Edward yang juga menjadi satu kesatuan di dalamnya. Tapi, pada core bahasannya buku ini tetap dipusatkan kepada tentang bagaimana cara pandang Barat ke Timur—di mana sering disebut sebagai orientalisme sehingga telah mempengaruhi tindakan kolonialisme dan imperialisme.

Edward berpendapat bahwa orientalisme telah menciptakan citra Timur yang seragam dan stereotipe, yang digunakan untuk membenarkan kolonialisme dan imperialisme. Citra Timur yang seragam ini sering kali menggambarkan Timur sebagai dunia yang terbelakang, primitif, dan inferior. Citra ini digunakan untuk membenarkan dominasi Barat atas Timur.

Beliau juga mengungkapkan bahwa orientalisme telah menciptakan cara berpikir yang menganggap Barat sebagai superior dan Timur sebagai inferior. Cara berpikir ini telah mendorong Barat untuk melakukan kolonialisme dan imperialisme, dengan tujuan katanya untuk "menyelamatkan" Timur dari kemunduran. Padahal, di realitanya berbanding terbalik. Buku ini juga menurut saya telah menginspirasi banyak orang di dunia Timur untuk melawan hegemoni Barat dan membangun identitas mereka sendiri.

Terdapat beberapa poin penting dalam buku "Bukan Eropa" karya Edward Said yang membahas tentang hubungan antara pandangan Eropa ke Timur dan kolonialisme/imperialisme di antaranya; Citra Timur yang seragam dan stereotip telah digunakan untuk membenarkan kolonialisme dan imperialisme. Barat telah memandang Timur sebagai dunia yang terbelakang dan primitif. Cara berpikir yang menganggap Barat sebagai superior dan Timur sebagai inferior telah mendorong Barat untuk melakukan kolonialisme dan imperialisme.

Buku ”Bukan Eropa” merupakan karya yang penting untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami hubungan antara Barat dan Timur. Buku ini juga termasuk satu dari sekian banyak karya penulis berketurunan Arab-Amerika yang menyuarakan perlawanan hegemoni Barat dan mendorong pembaca untuk memahami bahwa setiap bangsa perlu membangun identitas mereka sendiri. 

Saya menemukan banyak sekali kalimat-kalimat menarik dalam buku ‘Bukan Eropa’ ini. Yang bisa saya bedah satu-per-satu sebagai berikut; 

Pada halaman satu terdapat pernyataan semacam ini dari seorang Christopher Bollas dalam memperkenalkan Edward Said;

“Namun mereka yang telah belajar bersamanya, atau mengenalnya secara pribadi, sangat mengagumi caranya yang apik nan alamiah untuk mengubah ketidakadilan menjadi protes yang terpelajar.” 

Protes terpelajar saya kira adalah pernyataan yang paling tepat untuk menggambarkan keagungan karya dan berbagai perspektif yang disampaikan oleh Edward Said kepada banyak orang baik melalui buku maupun ceramah kontroversialnya yang kerap menyambungkan sebagian ucapannya dengan pernyataan Sigmund Freud yang kadang kala tidak sejalan dengan cara berpikirnya. Sedikit sentimen serta beberapa kali penuh kritik tersirat atas pernyataan Freud yang terkesan Eurosentris—meskipun dalam buku ini beliau sampaikan bahwa setiap kerangka pikir yang dihasilkan Freud cukup membantunya dalam melihat setiap aspek bukan hanya tentang imperialisme dan kolonialisme namun dari overview yang lebih luas. 

Edward Said kerap menyinggung setiap sisi yang menurutnya bergerak dalam ranah penindasan, pengucilan, dan pengkerdilan sebuah etnik, suku, agama, dan budaya tertentu yang kerap dilakukan oleh orang-orang Eropa kepada masyarakat-masyarakat Non-Eropa. Di dalam buku ini turut dipaparkan juga bahwa ia terlahir di Yerusalem, beliau sampaikan bahkan dia juga bingung kenapa dia beragama Kristen. Hal yang menunjukkan sisi ke-Araban dalam dirinya adalah Edward Said juga mantan PLO Palestina yang kemudian mengundurkan diri karena tidak merasa sejalan lagi dengan pola pikir Presiden Palestina pada waktu itu. Kutipan yang bisa saya sertakan di review ini adalah pernyataan dari buku ‘Bukan Eropa’ yang memaparkan tentang persoalan di atas yakni; 

“Kiprah Edward Said di PLO Palestina berlangsung belasan tahun, pidato-pidatonya memukau banyak orang dan berhasil mengangkat isu riil Palestina di dunia internasional. Ia bahkan sempat menjadi penulis pidato Yasser Arafat (mantan Presiden Palestina). Namun di PLO juga akhirnya ia ‘salah-tempat.’ Mendekati perundingan Oslo 1993, Said makin gencar mengecam kebijakan Yasser Arafat yang menurutnya hanya memikirkan kedudukan sendiri tanpa peduli kerugian yang diderita rakyat Palestina akibat perundingan itu. Said akhirnya mundur dari Dewan Nasional Palestina tahun 1991, dan tahun 1996 Yasser Arafat membalas kritikan Said dengan memerintahkan penyitaan semua bukunya di Jalur Gaza dan Tepi barat. Sebuah ironi bagi seseorang yang telah mengerahkan seluruh tenaga fisik dan intelektualnya demi kemerdekaan Palestina.” 

Dari drama yang terjadi, tentu ini menjadi kisah yang pelik dan panjang. Edward termasuk dalam orang-orang yang berdiri bersama Palestina selama hidupnya. Dalam buku-bukunya jelas sekali bahwa dia selalu menjunjung tinggi kemanusiaan terkhusus pada penindasan yang dilakukan Israel di tanah kelahirannya, tapi terlepas dari itu ia memang kerap bergelut dengan persoalan kolonialisme dan pasca koloni serta dampaknya terhadap kebudayaan tanpa harus melihat pada perbedaan yang kental dalam masyarakat di zamannya selama hidup. Meskipun pada akhirnya juga beliau harus memperoleh berbagai pro dan kontra. Terkadang memang memerlukan beberapa orang yang harus di korbankan untuk mencapai titik tertinggi dari freedom of speech. 

Mari berangkat sedikit lebih dalam, mengenai pernyataan bahwa sebaiknya setiap bangsa membangun identitas mereka sendiri. Saya sangat setuju oleh pernyataan tersebut, tindakan orang-orang Eropa yang terkesan memaksakan kebudayaan mereka kepada orang-orang Non-Eropa menurut saya adalah tindakan yang tidak menghormati hak orang lain. Apalagi hanya demi mencapai keseragaman semata. Keseragaman untuk keharmonisan memang bagus, tapi jika berlebihan maka bisa mengacu pada bagaimana Teori Identitas Sosial menerangkan mengenai ini, kurang lebih bunyi teorinya seperti berikut; 

“Orang cenderung mengidentifikasi diri mereka dengan kelompok sosial tertentu, seperti suku, agama, atau kelas sosial, dan bahwa identitas ini memengaruhi cara mereka memahami diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. Konsep-konsep seperti in-group (kelompok sendiri) dan out-group (kelompok lain), serta pembentukan batasan kelompok, dapat terkait dengan teori identitas sosial.”

Terkadang ada beberapa orang yang membatasi diri mereka untuk bisa berbaur dengan kelompok lain. Sama halnya seperti isu rasial yang sekarang bertebaran di jagat media sosial kita, mengenai satu kompetisi masak yang semua pemenang dari setiap seasonnya lebih terkesan dicondongkan pada satu ras tertentu. Jurinya pun melihat dan menilai kualitas peserta nampaknya bukan secara subjektif melainkan objektif akibat pengaruh kepentingan tertentu baik itu yang berasal dari internal maupun eksternal. Jadi, ini juga persoalan yang masih berkesinambungan di masyarakat kita hingga sekarang. Rasis merupakan konflik etnik yang kemudian bisa membawa pada persoalan selanjutnya semacam konflik agama, konflik budaya, konflik suku, serta berbagai macam permasalahan yang dapat menimbulkan perpecahan.

Sehingga menurut saya kasus semacam di atas adalah apa yang paling di soroti oleh Edward Said dalam setiap buku-bukunya tentang pengkerdilan kebudayaan tertentu;

“Dalam banyak hal, hidup Edward Said memang penuh ketidaklaziman ("salah-tempat"). Ia seorang Arab yang beragama Kristen Anglikan dan bernama depan pangeran Inggris (sementara Arab itu lebih kental dengan agama Islam) Tentang bagaimana hal ini bisa terjadi ia mengaku tidak tahu-menahu dan menerimanya begitu saja. Agamanya yang barangkali dianutnya hanya sebagai ‘agama KTP’—jeIas diturunkan dari garis silsilahnya, walaupun umat Kristen Palestina pada umumnya memeluk aliran Ortodoks. Tak heran bila persoalan utama yang bergejolak dalam pemikiran Edward Said kemudian adalah permasalahan identitas. Ia yakin bahwa identitas suatu individu atau suatu bangsa tidak bisa digeneralisir atau disimplifikasi menjadi ‘satu dan satu-satunya ldentitas.’ Sejarah yang merentang panjang di belakangnya sesungguhnya mustahil hanya bergerak di satu garis lurus, pasti ada berbagai macam pengaruh yang saling bercampur aduk dalam merumuskan jati diri yang terbentuk sekarang. ‘Tak seorang pun kini yang semata-mata hanya satu hal’ ungkapnya. Singkatnya: identitas tidak bisa diabsolutkan.”

Pernyataan di atas adalah fakta yang harus diterima. Setiap bangsa memiliki proses yang panjang untuk sampai pada taraf tertentu di mana semua tindakan kefasikan paling tidak ditekan dan dikurangi karena mustahil untuk dihilangkan. Salah satu tindakan kefasikan adalah menindas sebuah identitas kebudayaan tertentu karena merasa superior. Identitas semestinya tidak boleh di absolutkan. Sehingga, tindakan kolonialisme yang dilakukan oleh sebuah negara kepada negara lain kemudian memaksakan akulturasi budaya dan membuat bangsa yang dijajah agar semuanya seragam dengan keinginan penjajah—menurut saya yang demikian merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia, maka dari itu penjajahan dalam bentuk apapun di era modern ini perlu ditindak tegas. 

Apa yang dituliskan oleh Edward pada sepanjang hidupnya sampai ia menutup mata di tahun 2003 terkhusus penggambaran tentang dia dalam buku ‘Bukan Eropa’ seluruh pikirannya masih relevan dengan apa yang kini kerap melanda konflik di setiap tempat bukan hanya pada negara-negara maju dengan sematan ‘adikuasa’ namun juga menjadi momok mengerikan untuk negara berkembang seperti Indonesia. 

Dalam buku ‘Bukan Eropa’ ini Christopher Bollas menyampaikan pandangannya; 

“Maka dalam mengkaji struktur penindasan, kita jangan cuma melihat apa yang diproyeksikan sang penindas pada yang ditindas (misalnya, kekerasan Israel diproyeksikan kepada rakyat Palestina), tapi kita juga harus mempertimbangkan pergolakan untuk mengakui eksistensi aktual orang lain (dalam hal ini keengganan Israel untuk mengakui eksistensi orang Palestina). Kombinasi halusinasi positif dan negatif inilah yang membuat relasi obyek ini sebagaimana kita menyebutnya dalam psikoanalisa bukan hanya toksis namun psikotis. Dalam pengertian ini sang tertindas ada untuk menangkal daya destruktif yang tak diinginkan dalam diri si penindas, yang pada saat yang sama juga bersikeras bahwa sang tertindas itu ibarat feses yang begitu menjijikkan sampai tak bisa dikenali, kecuali hanya jika mereka lenyap dari pandangan, dan akhirnya terhapuskan. Dalam banyak hal tulisan-tulisan Said bukan cuma mengangkat perlawanan literer terhadap genosida intelektual yang berlangsung dalam begitu banyak narasi Barat tentang Palestina, namun juga secara simultan berfungsi sebagai perlawanan terhadap pemaksaan skizofrenogenik.”

Saya suka pemilihan istilah yang digunakan dari eksistensi aktual, genosida Intelektual, sampai pemaksaan skizofrenogenik. 

Eksistensi aktual dari bangsa Palestina yang bahkan dinilai sebagai sebuah bentuk ancaman bagi Israel. Genosida Intelektual menurut saya adalah kerangka pikir yang pada akhirnya mengakar—berkesinambungan lalu berkembang dan tumbuh pesat akibat dari apa yang di lakukan oleh para orientalis dalam memberikan berbagai perspektifnya yang cenderung egosentris. Menyampaikan hasil penelitian mereka yang kebanyakan berisi perbandingan antara keunggulan Barat daripada Timur, mendistorsi sebuah kebudayaan sebab merasa budaya mereka lebih unggul tanpa melihatnya secara subjektif. Ini menurut saya permasalahan yang terus berkutat dan tidak akan pernah menghilang, meskipun tidak semua orientalis melakukan hal demikian, namun pada kenyataannya sebagian dari mereka menghasilkan pernyataan yang monolitik. 

Sementara itu, istilah pemaksaan skizofrenogenik menurut saya merupakan pernyataan yang mustinya menyentak para orientalis dalam memberikan sudut pandang mereka terhadap perbedaan kebudayaan antara Barat dan Timur di berbagai hal. Skizofrenogenik secara singkatnya adalah penyakit yang diderita oleh manusia di mana penderitanya kebanyakan berhalusinasi dan merasa semua yang ada di imajinasinya adalah sebuah realita. Sehingga, jika disambungkan dengan bagaimana orientalis ini membuat pernyataan kemudian mempengaruhi masyarakat yang memiliki kebudayaan sama dengan mereka agar mempunyai pandangan yang selaras terhadap sebuah kebudayaan di luar budaya mereka sendiri. Padahal, informasi yang terdistribusikan secara bersiklus tersebut bukanlah kenyataan yang sebenarnya, dan akhirnya mereka terjebak di perspektif tersebut tanpa mau mencari tahu fakta.

Sebagaimana yang dilampirkan dalam buku ini terkait kutipan kasus yang sering kali ditemui Frantz Fanon yang merupakan seorang aktivis dan intelektual dari Afrika dan Karibia. Sekadar informasi karya-karya beliau lebih difokuskan pada konteks kolonialisme, dekolonisasi, dan pengalaman orang-orang yang terjajah. Kurang lebih pandangan dia sama dengan Edward dan Christopher Bollas. Di sebutkan dalam buku ini pada halaman 13, terkait pengalaman Fanon dalam meneliti mengenai kolonialisme yakni; 

“Paling pertama ia mencatat bahwa bagi orang Eropa, jagat non-Eropa hanya berisi penduduk pribumi serta ‘wanita-wanita berkerudung, pohon- pohon palem, dan unta-unta yang mengisi lanskap, latar belakang alamiah bagi kehadiran manusiawi orang Perancis.’ Sesudah menderat bagaimana penduduk asli didiagnosa oleh psikiater klinis Eropa sebagai pembantai buas yang membunuh tanpa alasan jelas, Fanon menyitir seseorang bernama Profesor A. Porot, yang opini saintifiknya mengatakan bahwa hidup penduduk pribumi dikuasai oleh ‘dorongan-dorongan diensefalon [otak-tengah]’, yang hasil akhirnya adalah primitivisme yang tak bisa berkembang.”

Secara sederhana mereka mempersempit keberagaman budaya menjadi gambaran sederhana dan eksotis. Yang mencerminkan cara pandang paternalistik yang merendahkan dan membenarkan tindakan keras terhadap masyarakat lokal dengan menggambarkannya sebagai ancaman yang perlu dikendalikan. (Paternalistik merujuk pada sikap, perilaku, di mana seseorang atau suatu kelompok berperan sebagai figur otoritas atau wali yang melibatkan diri dalam mengambil keputusan, dan memberikan bimbingan atau perlindungan kepada orang lain dengan alasan demi kebaikan orang tersebut).

Kemudian di halaman 15, kutipan tulisan Fanon dilampirkan; 

“Tinggalkan Eropa ini yang tak pernah rampung membicarakan manusia, namun membunuhi manusia di manapun mereka menemukannya, di pojok setiap jalannya sendiri, di seluruh pelosok muka bumi. Eropa mengemban kepemimpinan dunia dengan penuh hasrat, sinisme, dan kekerasan. Lihatlah betapa bayang-bayang istananya membentang makin menjauh! Setiap gerak geriknya mendobrak batas-batas ruang dan pemikiran. Eropa telah menampik segala kesahajaan dan kesederhanaan; namun ia juga telah memacak muka. Menentang
segala kecemasan dan kelembutan.
Ketika saya mencari manusia dalam teknik dan gaya Eropa, saya cuma melihat negasi silih-berganti atas manusia, serta bertubi-tubinya para pembunuh.” 

Speechless! Jujur saja, semua orang wajib baca buku ‘Bukan Eropa’, sebab sebagus itu. Saya sampai berniat mengakhiri tulisan ini sampai di sini saja, keterbatasan pengetahuan saya usai membaca buku ‘Bukan Eropa’ benar-benar terlihat jelas. Saya sadar usai melihat tiap kalimat yang tertera pada seluruh halaman buku tersebut—bahwa memang saya tidak tahu apa-apa tentang dunia ini. Bahkan kamu bisa identifikasi dari imbuhan tulisan saya kali ini yang benar-benar seperti tidak ada isinya. Saya menyadari bahwa pergolakan yang terjadi di dunia hingga saat ini, cukup membuat saya paham banyak hal termasuk tidak heran kenapa bangsa Eropa dan setiap sistem pemerintahannya berkuasa sekali pada setiap perkembangan peradaban.

Oh, satu yang perlu saya pertegas dalam tulisan ini adalah dalam buku ‘Bukan Eropa’ yang disinggung bukan hanya Eropa secara harfiah wilayah Eropa Timur dan Barat, tapi juga mencakup semua negara-negara Barat yang memiliki warisan budaya Eropa, sistem politik demokratis, dan nilai-nilai sosial yang bersumber dari Eropa termasuk salah satunya ialah Amerika Serikat. Sehingga, Amerika secara keseluruhan dan beberapa negara di luar Eropa juga termasuk dalam tujuan kritikan yang coba Edward, Fanon, dan Christopher Bollas bangun dalam karya-karya mereke. Olehnya itu, Eropa dalam konteks ini yakni semua bangsa-bangsa Barat yang memiliki ikatan historis, politik, dan budaya dengan Eropa. Sebagaimana yang diketahui bersama akibat dari kolonialisme dan imperialisme pengaruh Eropa cukup besar ke banyak negara-negara barat.

Edward menggambarkan sosok Fanon dengan kalimat yang tepat; “Fanon sendiri nyaris tidak menyediakan pembacanya dengan semacam cetak biru cara-cara baru yang ada dalam benaknya. Toh tujuan pokoknya adalah menggugat Eropa karena telah menyekat-nyekat manusia ke dalam hirarki ras yang mereduksi dan mendehumanisasi kaum hamba ke bawah cara pandang ilmiah maupun kehendak kaum penguasa. Aktualisasi skema inilah tentunya, yang dihadirkan oleh sistem kolonial di wilayah imperial, namun saya kira benar untuk mengatakan bahwasanya ini serangan Fanon mencakup seluruh bangunan humanisme Eropa itu sendiri, yang terbukti tidak mampu melampaui keterbatasan-keterbatasan pandangannya sendiri yang menyakitkan. Sebagaimana dijabarkan dengan begitu baik oleh Immanuel Wallerstein; kritik-kritik lanjutan atas Eurosentrisme dalam empat dasawarsa terakhir abad 20 memperdalam serangan ini dengan mempersoalkan historiografi Eropa, klaim universalismenya, definisinya atas peradaban, orientalismenya, dan penerimaan tak kritisnya atas paradigma kemajuan yang menempatkan apa yang oleh Huntington dan orang-orang seperti dia disebut sebagai *Barat* di pusat kerumunan massa peradaban-peradaban lebih kecil yang mencoba menantang supremasi Barat.”

Menurut perspektif saya, pada akhirnya semua orang setuju bahwa Eurosentrisme memang nyata adanya, pemahaman ini kemudian semakin dikuatkan dengan berbagai kerangka pikir para akademisi Orientalis yang tidak pernah tenggelam meski telah melewati berbagai zaman. Melainkan terus dikembangbiakkan sebagai pembuktian bahwa cara berpikir mereka adalah kebenaran yang mutlak. Orang-orang Eropa maupun negara-negara yang secara historis terhubung dengan kebudayaan Eropa atau sebut saja negara-negara Barat secara harfiah memang selalu merasa berkuasa dalam banyak hal. Merasa bisa mengendalikan massa dalam jumlah besar, kemudian menggiring banyak orang-orang awam masuk dalam kubangan perspektif yang bias.

Kita mungkin masuk ke dalam orang-orang awam yang bisa dikendalikan tersebut. Sehingga, penting sekali untuk bisa melihat setiap kasus internasional yang terjadi bukan hanya melalui satu pandangan namun mengamatinya secara lebih luas dan menyeluruh. Terbiasa membandingkan informasi adalah perilaku kecil yang bisa diterapkan demi mencegah penalaran yang tidak subjektif. 

***

Kita akan sampai pada akhir dari buku ini, tapi mari sejenak saya bawa kamu pada perspektif lain dari Edward yang kerap kali mendapat sentimen miring dari banyak orang karena pernyataannya yang cenderung menyudutkan beberapa tokoh terkenal; 

“Saya merasa harus menambahkan sesuatu di sini. Saya kerap ditafsirkan tengah menyerang secara retrospektif para penulis dan pemikir besar seperti Jane Austen dan Karl Marx lantaran beberapa ide mereka secara politik tampak tidak benar menurut standar zaman kita. Ini ucapan bodoh yang harus saya katakan dengan tegas—sama sekali tidak berlaku atas apapun yang telah saya tulis atau nyatakan. Sebaliknya, saya selalu mencoba memahami tokoh-tokoh masa silam yang saya kagumi. Bahkan dalam hal pandangan mereka terhadap masyarakat dan budaya-budaya lain, saya selalu menunjukkan betapa terikatnya mereka pada perspektif momentum kebudayaannya sendiri. Poin utama yang coba saya ajukan adalah: penting untuk membaca mereka sebagai sesuatu yang secara intrinsik berharga bagi pembaca Bukan-Eropa atau bukan-Barat ini hari, yang entah dengan senang hati mencercanya sebagai dehumanis atau tak cukup sadar akan rakyat bangsa jajahan (seperti yang dilakukan Chinua Achebe terhadap penggambaran Conrad atas Afrika), atau membacanya dengan suatu cara yang ‘mengatasi’ lingkungan historis tempat mereka begitu berperan.”

Pada intinya, Edward menyajikan apa yang dia pahami dari pola pikir para tokoh-tokoh yang dulunya cukup berpengaruh dalam bagaimana cara pandang orang-orang Barat pada Timur. Bukan hanya menyinggung cara pandang Jane Austen, Karl Marx, tapi juga ia turut menyoroti banyak pernyataan sentimental dari Sigmund Freud, Conrad, Thomas Mann, Romain Rolland, Jacquy Chemouni, dan Erich Auerbach. 

Edward juga membawa nama Sigmund Freud pada beberapa kali kesempatan, dijelaskan bahkan ia diundang pada beberapa kali kegiatan peringatan kelahiran Sigmun Freud di berbagai negara. Lucu dan uniknya adalah ceramahnya di batalkan di Wina pada perayaan kelahiran Freud sebab terlalu sensitif karena pada waktu itu sedang hangat-hangatnya konflik timur tengah, sementara dari jauh-jauh hari dirinya sudah menyiapkan topik yang akan beliau sampaikan dalam sambutannya. Edward mengajukan judul ‘Freud dan Orang Bukan-Eropa’ kemudian beliau sampaikan seperti ini; 

“Lantas tanggal 8 Februari tahun ini, tanpa basa-basi saya diberitahu oleh kepala Institut (seorang sosiolog Wina bernama Schiilein) bahwa dewan memutuskan membatalkan ceramah saya, gara-gara (katanya) situasi politik Timur Tengah dan ‘konsekuensinya’ Tak ada penjelasan lain diberikan. Inilah sikap paling tidak profesional dan sungguh disesalkan yang sangat kontradiktif dengan semangat dan isi karya Freud. Selama lebih dari 30 tahun berceramah di seluruh dunia hal ini belum pernah menimpa saya, dan langsung saya respon dengan bertanya pada Schiilein dalam surat satu baris agar menjelaskan bagaimana bisa sebuah ceramah tentang Freud di Wina ada kaitannya dengan ‘kondisi politik Timur Tengah.’ Tentu saja saya tak mendapat jawaban.” 

Edward merupakan seorang aktivis Arab-Palestina, bisa dikatakan dia memiliki pure blood Arab, tapi beragam Kristen Anglikan—sekaligus merupakan alumni dari PLO Palestina. Namun, menurutnya bukan berarti karena latar belakang itulah yang membuatnya tidak boleh menyampaikan ceramah. Sehingga pada halaman 24 buku ini, Edward menyampaikan; 

”Saya katakan waktu itu Freud diburu keluar dari Wina oleh Nazi dan mayoritas penduduk Austria. Hari ini suri tauladan keberanian dan prinsip intelektual yang sama malah mencekal seorang Palestina untuk berceramah. Begitu rendahnya Zionisme busuk ini terbenam sampai-sampai ia ‘tidak sanggup' membela dirinya dengan debat terbuka dan dialog yang sejati. Ia pakai taktik-taktik gelap mafia (ancaman dan pemerasan) untuk memperoleh kebungkaman dan kepatuhan. Begitu putus asanya merebut dukungan sampai-sampai ia nyatakan dirinya di Israel dan lewat pendukungnya di mana-mana agar mereka setuju menghapus suara rakyat Palestina sepenuhnya, entah dengan mencekik desa-desa Palestina seperti Bir Zeit, atau dengan memberangus diskusi dan kritik di manapun ia bisa menemukan kolaborator dan para pengecut untuk menjalankan tuntutan-tuntutan tercelanya ini. Tidak heran bila dalam iklim macam ini Ariel Sharonlah yang memimpin Israel.” 

Edward dengan secara jelas menunjukkan kritik pedasnya dalam buku ‘Bukan Eropa’ terhadap ulah pemerintah Israel yang sengaja menyuruh seluruh dewan pelaksana perayaan kelahiran Freud di Wina yang mengundangnya untuk segera mencekal agar dia tidak bisa menyampaikan ceramah. 

Hal ini menurut saya sudah cukup menunjukkan bagaimana power Israel memang sejak dahulu kala semakin terpupuk, dengan melakukan banyak cara untuk mencari dukungan dari banyak orang. Padahal kejadian pembatalan ceramah Edward tersebut ada pada 2001, artinya sudah 22 tahun berlalu. Sementara, konflik Israel dan Palestina hingga detik ini di tahun 2023 masih terus bergejolak dan malah semakin memanas. 

Kembali pada bahasan mengenai Edward dan Freud. Terlepas dari banyak pernyataan Freud yang terkesan amat sangat Eurosentris namun tetap saja sosok ini memberikan Edward cukup banyak pandangan baru. Beliau merasa dia dan Freud punya kesamaan, salah satunya tentang sikap pantang menyerah meskipun sudah menerima banyak penolakan. Namun terlepas dari itu pandangan keduanya memang cukup berbeda beberapa, tapi kesamaannya juga banyak. Dengan kata lain Edward juga dalam kerangka berpikirnya turut dipengaruhi oleh banyak argumentasi ilmiah dari Freud meskipun keduanya lahir di zaman yang berbeda. 

Menurut Jacqueune Rose dalam buku ‘Bukan Eropa’ ini ia menuliskan tentang pandangan Edward mengenai Freud. Yang mana menurut Edward, Freud adalah salah satu pemikir yang tidak menyediakan penghiburan (maksudnya Freud selalu mengatakan fakta, misal menyakitkan ya menyakitkan, tidak dilebih-lebihkan), Freud tidak menyediakan utopia—jelas ia termasyhur akan hal ini—namun karena kejujuran itulah akhirnya menjadi sebuah celah atau luka di jantung identitas kolektif. Yang bisa saya maknai dari penggambaran tersebut adalah dalam proses pengungkapan kebenaran dan pemahaman psikologis, Freud menghadirkan pemahaman yang mungkin mengganggu atau menantang pandangan tradisional tentang diri dan masyarakat. Dia menyampaikan sesuatu yang perlu direnungkan dari situasi masyarakat yang menurutnya pada waktu itu tidak ideal, pandangan tradisional mengurung banyak orang dalam satu pemikiran yang sama. Olehnya itu akibat banyak pernyataan kontroversial semacam ini, akhirnya Freud banyak menerima pertentangan. 

(Sekali lagi, terlepas dari pandangannya yang super duper Eurosentris, dan segala keskeptisan saya secara pribadi tentang sebagian pernyataan Freud. Tapi, saya paham juga hal tersebut terjadi sebagaimana yang dijelaskan oleh Edward bahwa Freud hidup persis sebelum peralihan penduduk besar-besaran yang akan membawa orang India, Afrika, Hindia Barat, Turki, dan Kurdi ke jantung Eropa sebagai buruh tamu dan kerap imigran tak diundang. Dan tentunya ia meninggal persis ketika dunia Austro-Jermani dan Romawi yang digambarkan dengan begitu mengesankan oleh orang-orang hebat sezamannya seperti Thomas Mann dan Romain Rolland terkapar berserakan, dengan jutaan sesama Yahudinya dibantai oleh Reich Nazi.) 

Jacqueune Rose juga menambahkan bahwa Dalam kata-kata Said lagi, ia "menolak menuntaskan masalah identitas ke dalam kawanan-kawanan nasionalis atau religius ke mana begitu banyak orang dengan putus asa ingin menuju." Karenanya di tangan Said gebrakan-gebrakan garang dan pantang menyerah dalam “gaya akhir” Freud turut dia adopsi. 

Menurut saya ini adalah sisi positif dari bagaimana pada akhirnya sentimen Edward pada tiap pernyataan kontroversial Freud ia kesampingkan, namun ditiliknya lebih jauh dari sisi berbeda yakni mengenai sikap Freud yang tidak mudah goyah. Sama halnya dengan Edward meskipun banyak sekali pertentangan, namun ia tetap saja memberikan pernyataan menarik tentang bagaimana caranya memandang kesalahan berpikir beberapa Orientalis serta berbagai fenomena yang menghasilkan paradigma yang cenderung menyudutkan kebudayaan tertentu akibat dari pengaruh kolonialisme dan imperialisme di masa lalu misal pada konflik Israel dan Palestina. 

*** 

Akhirnya kita tiba pada sesi terakhir dari tulisan ini. 

Kesimpulannya adalah dalam buku ‘Bukan Eropa’ kita akan dibawa secara mendalam tentang bagaimana sosok Edward bukan hanya pandangannya tentang banyak hal, namun juga bagaimana orang lain melihat beliau yang turut berpengaruh bagi perkembangan studi postkolonial. Overall, pernyataan Edward bahkan masih bisa dijadikan problem solving atas peristiwa yang generasi kita alami sekarang.  

Buku ini juga mengenalkan saya dengan banyak istilah yang unik-unik bahkan cenderung unfamiliar. Terlalu asing beberapa istilahnya, namun justru menambah perbendaharaan kata. Walaupun memang buku ini jujur saja membuat saya semakin yakin bahwa saya seratus persen terdeteksi masih fakir ilmu sekali. 

Saya benar-benar merasa seperti orang bodoh. Saya sangat merekomendasikan kepada banyak orang untuk membaca tulisan beliau terutama karya fenomenal Edward yang berjudul Orientalisme kalau kamu tertarik dengan pandangan-pandangan terkait sentimen Barat ke Timur yang dipaparkan Edward secara ‘brutal’. 

*** 

Sepertinya sudah semakin panjang, jika saya tambahkan bisa lanjut ke part selanjutnya, kkk. FYI, saya sudah menulis ini dari 25 November kemarin, saya baca berulang kali tulisan ini akhirnya melalui revisi belasan kali. Baru akhirnya bisa saya sempurnakan tanggal 11 Desember (itupun ini sebenarnya masih kurang sekali). Tapi ya sudahlah ya, berharapnya inti dari bedah buku ini bisa tersampaikan kepada kamu yang membaca. Terima kasih sudah melihat sampai di paragraf ini. Semoga tulisannya bermanfaat.

Sebelum saya tutup, saya mau semua orang membaca pernyataan Sigmund Freud yang dikutip oleh Rose dalam buku ‘Bukan Eropa’ ini dan saya pikir masih cukup relevan untuk dijadikan sebagai refleksi;  

“Belajarlah hidup tanpa fiksi-fiksi yang membuai, karena dalam tumpasnya fantasi-fantasi berbahaya yang begitu meninabobokan itulah terletak harapanmu satu-satunya.” 

~ Sigmund Freud

***

Saya menemukan banyak sekali typo setelah satu minggu saya mengupload tulisan review ini. Mohon di maklumi. Padahal saya sudah baca berulang kali, tapi entah kenapa tetap ada bagian salah yang terlewati. Sekarang, beberapa penulisan kalimat dan kata yang eror sudah saya perbaiki (berharapnya tidak ada yang terlewatkan lagi). Saya cuman kepikiran yang sudah baca bedah buku ini sebelum saya revisi, semoga matanya tidak iritasi :). Penulisan mari jadi mereka dan parahnya nama Plato jadi Pluto. HELL NAH! (Sorry, please forgive me for Plato fans :). 

Sampai berjumpa di review buku selanjutnya. 
Salam hangat, see u when I see u🥂👋. 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku: “Journey Of Souls” karya Michael Newton dan Korelasinya dengan Pandangan Ibnu Sina Terkait Konsep Jiwa

Implementasi Mitigasi Bencana di Indonesia; Berkaca pada Kesiapsiagaan Jepang dalam Menghadapi Bencana