Review Buku: “Journey Of Souls” karya Michael Newton dan Korelasinya dengan Pandangan Ibnu Sina Terkait Konsep Jiwa
Saya menemukan sebuah bacaan buku menarik awal tahun ini tentang perjalanan jiwa. Daripada hanya saya simpan dipikiran, akan lebih baik saya bagikan kepada banyak orang untuk direkomendasikan. Olehnya, saya memutuskan untuk membuat review buku ini. Siapa tahu kamu tertarik, kamu dapat membaca catatan bedah buku edisi ke 8 berikut dengan seksama sampai akhir.
Buku yang akan saya bahas adalah; Journey of Souls oleh Michael Newton. Serta sedikit kesinambungannya dengan opini Ibnu Sina mengenai perjalanan jiwa.
Terlebih dahulu mari saya jelaskan kepada kamu siapa itu Michael Newton:
Michael Newton adalah seorang psikolog dan hipnoterapis Amerika yang dikenal karena penelitiannya tentang kehidupan antara kehidupan (Kehidupan antara kehidupan adalah konsep yang mengacu pada periode eksistensi jiwa antara kematian manusia dan kelahiran kembali manusia berikutnya. Jiwa tidak berakhir ketika tubuh mati, melainkan kembali ke dunia spiritual atau yang pada umumnya diidentifikasi sebagai surga, alam baka, atau dimensi lain menurut beberapa kepercayaan).
Newton memulai kariernya sebagai psikolog klinis pada tahun 1960-an. Sementara pada tahun 1970-an, ia mulai mengembangkan teknik hipnoterapi regresi untuk membantu pasiennya mengakses ingatan masa lalu mereka. Dalam prosesnya, ia menemukan bahwa banyak pasiennya dapat mengingat pengalaman mereka di kehidupan lampau. Salah satu karya fenomenalnya adalah Journey Of Souls dan Destiny Of Souls. Namun, pada review kali ini saya hanya akan membahas bukunya yang berjudul Journey Of Souls.
Journey of Souls adalah sebuah buku yang menceritakan kisah 29 orang yang dihipnotis oleh Newton untuk mengingat pengalaman mereka antara kehidupan. Newton menemukan bahwa pengalaman ini sangat mirip di antara semua subjek, dan dia menggunakan informasi ini untuk mengembangkan teorinya tentang kehidupan setelah kematian.
Menurut teori Newton, setelah kematian, jiwa kita pergi ke alam roh, di mana kita menjalani kehidupan yang bahagia dan penuh cinta. Di alam roh, kita bertemu dengan teman dan keluarga yang telah meninggal, dan kita mempelajari pelajaran dari kehidupan kita yang lalu. Setelah kita siap, kita memilih untuk dilahirkan kembali ke dunia fisik untuk melanjutkan perjalanan spiritual kita.
Journey of Souls adalah buku yang menarik dan cukup provokatif—serta telah menginspirasi banyak orang. Buku ini mampu terjual lebih dari 1 juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa.
Saya merasa terpukau dengan eksplorasi mendalam Newton mengenai reinkarnasi dan perjalanan jiwa. Newton berhasil memadukan elemen ilmiah dengan nuansa spiritual, menciptakan kesepaduan yang jelas jauh berbeda dan lebih banyak bertentangan. Dalam diskusi saya dengan seorang teman, kami mengeksplorasi metode regresi hipnotis yang digunakan Newton untuk mengungkapkan pengalaman subjektif subjeknya mengenai kehidupan sebelum lahir dan perjalanan jiwa di antara kehidupan yang di alami oleh narasumber. Namun, saya secara pribadi juga menyadari bahwa interpretasi hasilnya cenderung bersifat subjektif sehingga cukup besar membuka ruang bagi skeptisisme untuk memberi sanggahan yang lebih masuk akal.
Spritual cenderung dipahami sebagai upaya pendekatan diri kepada sebuah eksistensi yang tidak bisa dilihat secara langsung, sulit dibuktikan kebenarannya, namun beberapa orang dengen kepercayaan tertentu mampu merasakannya. Sementara, bagi orang yang kerap mengandalkan logika dan condong pada penolakan atas sesuatu yang sulit dibuktikan secara ilmiah pasti merasa setiap unsur spritual itu adalah sesuatu yang tidak benar-benar eksis.
Salah satu aspek yang coba diangkat oleh buku ini adalah fokus pada pertemuan subjek dengan entitas spiritual yang menambah dimensi mistis seperti pertemuan dengan jiwa di masa lampau, atau sesuatu yang punya kesinambungan erat dengan jiwa narasumber di kehidupan sebelumnya. Buku ini secara garis besar disusun secara mendalam dengan metode naratif.
Dalam konteks ilmiah, buku Journey Of Souls memunculkan tantangan karena pendekatannya yang lebih cenderung ke spiritualitas. Meskipun demikian, menurut saya hal ini juga memungkinkan kita melihat reinkarnasi dari perspektif yang lebih luas dan terbuka. Dalam keseluruhan review, saya akan menekankan bahwa Journey of Souls memberikan kontribusi penting pada pemahaman pembaca tentang reinkarnasi, meskipun penikmatnya atau orang yang akan rencana membaca buku ini saya sarankan perlu membaca dengan pikiran terbuka dan mempertimbangkan unsur spiritualitas sebagai pendukung dalam memaknai tiap paragraf yang di susun oleh Newton berdasarkan hasil penemuannya dengan para narasumber yang ia pilih.
Buku ini menawarkan perspektif yang universal, serta cukup menciptakan koneksi dengan berbagai latar belakang keagamaan. Meskipun Newton tidak fokus pada satu agama tertentu, dia berhasil menangkap inti pengalaman spiritual yang dapat diapresiasi oleh berbagai kalangan pembaca. Misalnya saja seperti saya yang beragama Islam, saya percaya bahwa kehidupan manusia tidak semata-mata ada begitu saja. Tentu proses di kehidupan lampau merupakan cikal bakal kemunculan kita di masa sekarang. Misal saja dari penciptaan Tuhan (dalam perspektif Islam) atas makhluk-Nya dan proses-Nya dalam meniupkan ruh serta bagaimana keterangan yang Dia jelaskan secara implisit di surah Al-Insan ayat 1. Yang bisa saya artikan berikut;
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat di sebut”
Saya menafsirkan ayat ini sebagai bukti bahwa manusia tidak muncul begitu saja, tetapi melalui suatu proses yang telah ditentukan oleh Tuhan. Ayat ini menyiratkan adanya suatu periode sebelum manusia diberi bentuk yang dikenal sekarang. Konsep ini menarik karena sejalan dengan ide reinkarnasi yang dijelaskan oleh Newton, yang menggambarkan perjalanan jiwa melalui kehidupan sebelumnya. Meskipun konteks dan detailnya berbeda, ada kesamaan dalam pandangan bahwa kehidupan manusia memiliki dimensi yang melampaui batasan waktu yang kita kenal.
Kita hanya tidak tahu apakah jiwa kita dahulu pernah hidup di tubuh orang lain atau tidak. Jika kamu mengenal konsep Old Soul dan New Soul, membaca buku ini mungkin akan bisa kamu pahami.
Seperti kasus anak kecil yang berbicara layaknya orang dewasa, anak remaja yang tiba-tiba bergumam bahwa ia lahir di ratusan tahun yang lampau bahkan bisa menyebutkan secara jelas tempat ia tinggal meskipun lokasi tersebut sekarang sudah berubah nama namun setelah di telusuri bangunan yang dimaksud masih ada, atau seseorang yang mempunyai kelebihan secara spritual (atau sebut saja Indigo) dengan bisa melihat kehidupannya di masa lampau bahkan mengenal dengan baik sosok itu entah dari sikap maupun cara dia meninggal.
Cenderung tidak masuk akal memang dan mungkin orang-orang yang mengalami hal ini akan dilabeli gangguan jiwa seperti skizofrenia oleh para penganut skeptisisme. Tapi, saya secara pribadi berpikir bahwa ini benar-benar ada dan terjadi. Karena, hal-hal di semesta ini tidak semuanya mampu diartikan dengan cara berpikir yang empiris.
Buku Journey of Souls adalah karya yang cukup kontroversial menurut saya. Newton membuka jendela pada wilayah spiritual yang jarang dieksplorasi. Meskipun tidak sepenuhnya memenuhi kriteria ilmiah yang mendukung, buku ini tetap terbilang menarik sebagai kontribusi pada literatur mengenai reinkarnasi dan perjalanan jiwa. Saya merekomendasikan buku ini kepada kamu yang tertarik dengan eksplorasi spiritual, meskipun hasil pemikiran buku ini cenderung subjektif tapi tidak ada salahnya untuk membaca karya Newton tersebut minimal sekali seumur hidup.
Selain itu, buku ini juga berhasil menunjukkan keterkaitan erat antara pengalaman subjektif individu dan tema yang lebih luas tentang manusia dan eksistensi. Newton menghadirkan kisah-kisah pribadi yang mendalam dari para narasumbernya, percakapan antara dia dan subjek, serta upayanya menggali setiap memori dari orang-orang yang kembali mengenang perjalanan jiwanya. Hal ini menciptakan ikatan emosional, apalagi dibagian-bagian tertentu seperti kesulitan meluapkan seseorang di masa lalu atau bahkan kisah abo*si yang dialami oleh jiwa di tubuh mereka yang lampau.
Meskipun beberapa mengkritik metodologi hypnotherapy sebagai dasar yang kurang solid, namun Newton mengingatkan pembaca akan kompleksitas dan keragaman pengalaman manusia dalam mencari makna hidup.
Bacaan ini cocok bagi kamu yang terbuka terhadap konsep spiritualitas dan reinkarnasi, tetapi pembaca perlu menjaga keseimbangan antara kepercayaan pribadi dan sudut pandang ilmiah. Sebab, banyak sekali hal yang dipaparkan oleh Newton berupa aspek-aspek misterius dalam eksistensi kita di semesta ini yang melebihi batas dunia fisik.
Kesimpulan yang dapat saya uraikan usai membaca buku ini adalah; Jiwa kita merupakan entitas abadi yang telah ada dan bersifat selamanya. Kita memilih kehidupan kita sebelumnya dengan sengaja. Kemudian tujuan kita di kehidupan ini adalah untuk belajar dan berkembang. Setelah kematian lagi, kita pergi ke alam roh, di mana Newton meyakini di sini seluruh entitas menjalani kehidupan yang bahagia dan penuh cinta lalu memilih untuk dilahirkan kembali ke dunia fisik untuk melanjutkan perjalanan spiritual.
***
Dari seluruh pemaparan buku Journey Of Souls di atas, saya sedikit teringat terkait perspektif Ibnu Sina tentang perjalanan jiwa.
Ibnu Sina adalah seorang filsuf dan ilmuwan Muslim yang hidup pada abad ke-10 Masehi. Ia dikenal sebagai salah satu filsuf terbesar dalam sejarah Islam, dan karyanya telah berpengaruh besar terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia Barat.
Karya Ibnu Sina yang berjudul Nafs atau jiwa adalah sebuah risalah tentang jiwa manusia. Dalam buku ini, Ibnu Sina membahas berbagai aspek tentang jiwa, termasuk pengertian, hakikat, fungsi, dan keabadiannya.
Ibnu Sina mendefinisikan jiwa sebagai "kesempurnaan awal bagi jasad". Jiwa adalah sesuatu yang bersifat imaterial, tetapi ia memberikan kesempurnaan kepada jasad yang bersifat material. Menurut beliau jiwa merupakan sumber kehidupan, kesadaran, dan kemampuan berpikir bagi manusia.
Ibnu Sina berpendapat terdapat tiga pembagian jiwa yakni Nafs nabati, Nafs hewani, dan Nafs rasional. Jiwa rasional manusia bersifat kekal menurut Ibnu Sina. Jiwa rasional tidak bisa mati bersama dengan kematian jasad, tetapi ia akan tetap ada setelah kematian jasad.
Menarik sekali, mengingat menurut pernyataan Michael Newton dalam buku Journey Of Souls—jiwa akan tetap abadi selamanya. Meskipun keduanya tidak lahir di zaman yang sama dan memiliki pendekatan penilaian yang jauh berbeda sebab Ibnu Sina berlandaskan pada keilmuannya sebagai seorang Muslim, sementara Michael Newton sebaliknya. Namun, dibalik jauhnya metode yang digunakan oleh keduanya, saya merasa hasil pemikiran dari kedua tokoh ini memberikan ornamen yang semakin memperkaya khazanah keilmuan banyak orang terutama yang tertarik dengan topik-topik mengenai spritualitas.
Namun, sedikit yang musti saya luruskan adalah dalam konteks ini Ibnu Sina tidak menjelaskan secara detail apa yang terjadi pada jiwa tersebut setelah kematian. Michael Newton, di sisi lain, memberikan gambaran yang lebih spesifik tentang apa yang terjadi pada jiwa setelah kematian. Menurut Newton, jiwa akan pergi ke alam roh, tempat ia akan menjalani berbagai proses, termasuk evaluasi kehidupan sebelumnya, perencanaan kehidupan berikutnya, dan pertemuan dengan makhluk-makhluk spiritual lainnya.
Hal yang menarik juga di mana Ibnu Sina berpendapat; jiwa mula-mula bersatu dengan Tuhan, kemudian turun ke dalam alam material untuk mengalami kehidupan fisik. Selama perjalanan ini, jiwa mengalami evolusi dan pemurnian. Pada akhirnya, setelah mencapai pemahaman dan kesempurnaan tertentu, jiwa dapat kembali kepada Tuhan.
Pada intinya, kedua tokoh di atas yang menggemari topik terkait perjalanan jiwa ini cukup memberi kesempatan untuk pembaca dalam memahami eksistensi kehidupan, serta proses jiwa dan perkembangannya yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang awam sezamannya.
Bagi pembaca saya, mungkin ada yang masih ingat bahwa saya pernah sedikit mengulas mengenai perjalanan jiwa setelah dan seusai kematian. Yang isi catatannya kurang lebih begini;
“... Cuman, yang menjadi pertanyaan saya, kan kita sebelum menjadi manusia ‘masih berwujud ruh’ kita tidak sadar bahwa kita sudah ada sebenarnya sebelum memiliki bentuk yang bisa melihat—dilihat, merasakan—dirasakan (kita setuju dulu, nih di sini). Nah, kalau semisal kita mati, apakah ruh kita tetap akan memiliki ‘kesadaran’ bahwa kita sudah mati? Atau, ingatan itu akan ter-restart lagi dari nol dan ruh kita menjadi ruh murni lagi kemudian ditiupkan ke janin Ibu-Ibu yang lain?! Kalaupun tidak seperti itu, apakah justru setelah kematian kita hanya seperti bangun dari mimpi?! Jadi, seolah-olah kesadaran itu kita peroleh saat kita sudah menjadi ruh lagi dengan keterangan tambahan bahwa ruhnya di sini sudah memiliki pengalaman dan latar belakang pengetahuan untuk tahu bahwa dia pernah hidup sebelumnya. Sementara, jasad kita membaur kembali menjadi tanah, dan digunakan untuk membentuk manusia lain. Paham tidak maksud saya?!
Atau, jika mau lebih jauh dan luas lagi dapat diartikan sebelum adanya manusia, semesta ini mungkin sesuatu yang hampa atau justru kita hanya berupa kumpulan ruh yang tidak tahu akan berakhir menjadi manusia, gunung, bebatuan, debu, hewan, awan, hujan, bintang, air, dan segala bentuk lainnya yang menjadi ornamen pengisi jagat raya ini. Menghiasi setiap kehampaan semesta, lalu mungkin punah kembali dan menjadi sesuatu yang berbeda lagi di kehidupan selanjutnya.”
Kamu dapat membaca tulisan di atas melalui link berikut; http://revolutionaryexplorations.blogspot.com/2023/09/perjalanan-kesadaran-sebelum-kelahiran.html
Jadi, pada dasarnya kita hanya dalam proses peningkatan jiwa di kehidupan yang sekarang menuju keabadian selanjutnya entah kehidupan setelah kematian atau kemunculan kembali ke dunia sebagai arwah baru di tubuh yang berbeda. Saya masih ingat sekali Ustadzah saya semasa sekolah di Madrasah Aliyah Alkhairaat Tomini dulu mengatakan ketika pelajaran Mahfuzat bahwa;
“Jangan berpikir setelah kalian meninggal semua urusan sudah berakhir. Justru setelah meninggal itu barulah kita memulai kehidupan yang sebenarnya.”
Saya pikir penjelasan di atas mengacu pada masa penghisaban. Di mana semua manusia nantinya harus mempertanggungjawabkan seluruh amanah yang sudah di tetapkan kepadanya di hadapan Tuhan. Sementara perjalanan jiwanya dimulai kembali dari alam kubur, hingga fase terakhir menuju datangnya kiamat. Waualahuambissawab.
Yang jelas, kita sadar bahwa saat ini kita hidup dan tahu secara pasti dengan kepercayaan apapun yang kita yakini selepas kematian akan ada proses lagi yang harus dilewati. Sehingga, selama hidup sebisa mungkin kita dapat memperbanyak berbuat hal-hal yang positif. Sementara itu, perkara perjalanan jiwa, kematian, dan kesempatan untuk memulai kehidupan lagi sebagai manusia baru, biarkan itu menjadi rahasia Pencipta.
***
Jadi, bagaimana menurutmu tentang perjalanan jiwa? Sudahkah kamu tertarik untuk membaca buku Journey Of Souls dari Michael Newton atau tulisan-tulisan masterpiece Ibnu Sina selepas membaca ini?! :).
Sampai berjumpa di kesempatan review buku selanjutnya. Semoga bedah buku yang singkat ini bisa memberikan manfaat bagi kamu yang membaca, see u when I see u🥂👋.
Komentar
Posting Komentar