Review Buku: “Journey Of Souls” karya Michael Newton dan Korelasinya dengan Pandangan Ibnu Sina Terkait Konsep Jiwa

Gambar
Saya menemukan sebuah bacaan buku menarik awal tahun ini tentang perjalanan jiwa. Daripada hanya saya simpan dipikiran, akan lebih baik saya bagikan kepada banyak orang untuk direkomendasikan. Olehnya, saya memutuskan untuk membuat review buku ini. Siapa tahu kamu tertarik, kamu dapat membaca catatan bedah buku edisi ke 8 berikut dengan seksama sampai akhir.  Buku yang akan saya bahas adalah; Journey of Souls oleh Michael Newton. Serta sedikit kesinambungannya dengan opini Ibnu Sina mengenai perjalanan jiwa.  Terlebih dahulu mari saya jelaskan kepada kamu siapa itu Michael Newton:  Michael Newton adalah seorang psikolog dan hipnoterapis Amerika yang dikenal karena penelitiannya tentang kehidupan antara kehidupan (Kehidupan antara kehidupan adalah konsep yang mengacu pada periode eksistensi jiwa antara kematian manusia dan kelahiran kembali manusia berikutnya. Jiwa tidak berakhir ketika tubuh mati, melainkan kembali ke dunia spiritual atau yang pada umumny...

Kahlil Gibran: Sang Penyair di Balik Buku Sayap-sayap Patah

Hanya sekadar tulisan yang berisi perspektif pribadi saya tentang Kahlil Gibran dan karya-karya majestic yang ia hasilkan yang masih eksis sampai sekarang. Ini hanya sudut pandang saya yang fakir ilmu, saya tidak tanggungjawab kalau semisal usai membaca ini kamu tidak menemukan insight baru.

Saya sudah membaca beberapa buku karya beliau di antaranya; “Sayap-Sayap Patah”, “Sang Nabi”, “Sang Musafir”, “Pasir dan Buih”, dan “Sang Pujaan”.
Kahlil Gibran adalah salah satu penulis tersohor nan termasyhur asal Lebanon. Ia terlahir dalam keluarga Kristen Katholik Maronite yang taat. Ia pengagum Jesus, namun kekaguman itu tak membuatnya membatasi diri untuk mempelajari hal baru, ia pun belajar kesusastraan Arab. Beliau juga lahir di kondisi masyarakat yang beragam agamanya.
Berdasarkan beberapa kutipan pernyataan dari berbagai sumber yang saya dapatkan, Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa Al-Qur'an merupakan salah satu tempat yang agung untuk kesusastraan Arab dan potensinya bagi sumber inspirasi spiritual, sosial, dan filsafat. Hal ini pula yang kemudian melahirkan pernyataan Kahlil Gibran bahwa ia ‘Menyimpan Jesus di sebelah dada kanannya, dan Muhammad di sebelah lainnya.’ (Sumber Quora; @iskandarnorman).
Ketertarikan Gibran dengan kesusastraan Arab menurut saya mungkin dipengaruhi lingkungannya selama ia tumbuh dan besar di Lebanon yang mayoritasnya Islam. Pun, ditambah dirinya merupakan sosok yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar sehingga penuh semangat untuk banyak belajar hal baru.
Singkat cerita, akhirnya ia hijrah ke Boston, Amerika Serikat. Ia banyak belajar dan juga menciptakan berbagai karya tulis di negara perantauan ini. Perjalanannya ke negeri orang inilah yang membuat pola berpikir Kahlil Gibran berubah, ia menilai bahwa setiap manusia sama saja di mata Tuhan tanpa memandang perbedaan agama apalagi kasta sosial. Sehingga, tulisan-tulisan Kahlil Gibran itu sangat jarang sekali menyinggung ritual agama tertentu, di dalam karya Gibran bahkan dirinya banyak menuliskan kehidupan yang penuh kedamaian yang sangat beliau inginkan. Namun, ada juga beberapa kali ia menulis ke ranah politik, menyentil para penguasa Lebanon kala itu yang banyak melakukan praktik korupsi tetapi semua dibalut dengan kalimat satire. Dan masih banyak lagi kelebihan yang ia punya salah satu yang tidak terpisahkan adalah termasuk bakatnya dalam melukis. (Ibaratnya, beliau ini paket lengkap sekali. Sudah romantis, berwawasan luas, bisa menggambar pula. Siapa yang tidak suka?!).
Dampak daripada tulisan-tulisan Kahlil Gibran yang lahir di dalam situasi lingkungan multi religius secara tidak langsung menjadikannya salah seorang sastrawan berpengaruh dalam menyelaraskan perbedaan yang amat jauh antara kebudayaan Timur dan Barat.
Sebenarnya kalau menuliskan tentang perjalanan panjang kehidupan selama 48 tahun yang dilewati oleh Gibran hingga ia wafat, akan sangat banyak (pun saya menyadari kemampuan dan keterbatasan diri yang masih fakir Ilmu serta penulis musiman ini dan tentu sangat amat tidak tahu diri jika saya memaparkan sesuatu yang sebenarnya saya hanya mengetahui bagian permukaannya saja, apalagi terkait perjalanan menuntut ilmu yang dilewati Kahlil Gibran dan segala macam aspek kehidupan entah perjuangan maupun pengalaman yang menyertai jalan yang ditempuhnya. Oleh karena itu, tulisan ini hanya akan berisi interpretasi saya terhadap karya Kahlil Gibran dan berdasar pada beberapa informasi biografi beliau yang saya baca dari buku dan saya peroleh dari Internet. Sehingga, jika ada kesalahan keterangan mohon dimaafkan dan apabila ada bagian yang diragukan keabsahannya serta cenderung salah mohon di koreksi dan tentu terbuka juga atas opini apapun).
Saya mulai menikmati karya Kahlil Gibran semenjak 2020. Saya menemukan satu rekomendasi buku beliau dari ruang diskusi di Internet yang saya tergabung di dalamnya. Kemudian, saya memperoleh saran dari salah seorang member bahwa jika saya ingin membaca karya Kahlil Gibran untuk pertama kali, cobalah untuk membaca ‘Sayap-Sayap Patah’. Dengan berbekal saran itulah, saya akhirnya menemukan jiwa ketertarikan atas setiap tulisan Gibran yang cukup membuat saya merinding.
Di antara deretan karya sastra yang sudah dibuat oleh Gibran, yang akan menjadi fokus saya dalam tulisan ini adalah kisah yang ia tulis dalam bukunya; ‘Sayap-Sayap Patah’. Sependek interpretasi saya atas karya Kahlil Gibran ‘Sayap-Sayap Patah’ saya merasa ini adalah sebuah karya yang di dalamnya kamu bisa merasakan bagaimana konflik sosial berimbas pada perjalanan kehidupan yang menghinggapi tiap individu bahkan sampai pada perkara “cinta” yang dimilik oleh setiap orang di zaman itu terutama dalam konstruksi sosial yang terus berkesinambungan di masyarakat Lebanon—tempat kelahiran Kahlil Gibran, tempat yang sekaligus membersamai Gibran dalam prosesnya menemukan cinta hingga akhirnya cinta itu pula yang menyiksanya.
Sebelum jauh ke sana, izinkan saya menjelaskan secara singkat terkait darah seni di dalam diri Kahlil Gibran. Berdasarkan beberapa sumber jiwa seni Gibran turun dari Ibunya Kamila Estephan Rahme, Kamila seorang polyglot (Poliglotisme adalah kemampuan menuturkan beberapa bahasa dengan sangat mahir) Kamila menguasai bahasa Arab, Perancis dan bahasa Inggris, ia juga berbakat musik. Dengan kemampuan bahasa yang diajarkan ibunya itu, Kahlil Gibran tidak terlalu susah beradaptasi dengan lingkungan baru ketika mereka pindah dari Lebanon ke Amerika Serikat (sumber; Quora; @IskandarNorman). Sehingga, kalau melihat pada kedekatan Kahlil Gibran dan Ibunya, menurut saya hal ini pada akhirnya membuat Gibran menjadi pribadi yang lumayan melankolis.
For your Information, Kahlil Gibran juga tidak pernah menikah. Nah di sinilah saya akan memaparkan terkait cerita Sayap-Sayap patah, meskipun tidak pernah menikah namun kisah cintanya terbilang amat sangat tragis antara ia dan gadis asal Lebanon bernama Selma, singkatnya buku tersebut berisi bagaimana ia dan Selma dari asing, saling jatuh cinta, sampai akhirnya memilih jalan masing-masing untuk berpisah. Yang mana dalam tulisannya Gibran menyampaikan ada banyak sekali penghalangan antara ia dan Selma untuk bersatu. Bahkan, ia harus memendam perasaan itu karena merasa mandat Ayah Selma padanya lebih penting dari apapun. Hingga tiba pada masa di mana Selma harus menyampaikan bahwa dia dan Gibran tidak boleh saling bertemu lagi tersebab telah ada seorang Pria yang datang menemui Ayahnya untuk meminang Selma. (Ini bikin saya sedih sekali sih). Bahkan di bagian ini juga, saat Selma menyampaikan bagaimana ia dan Gibran tidak bisa bersama, Gibran masih sempat-sempatnya menuliskan bagian paling indah yang menurut saya cukup menyentuh hati;
"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang."
Dan bagian ini yang jujur saya berkaca-kaca ketika harus membaca ulang yakni ucapan Selma untuk Kahlil Gibran dalam rangka menyampaikan bahwa telah ada Pria yang datang kepada Ayahnya untuk melamar dirinya;
( ... Ada sesuatu yang lebih agung dan murni daripada yang diutarakan oleh mulut. Keheningan menerangi jiwa kami, berbisik ke dalam jantung hati kami serta menyatukannya. Keheningan memisahkan kami dari diri kami, membawa kami melayari cakrawala jiwa dan mendekatkan kami pada surga. Keheningan menyadarkan kami bahwa tubuh tidak lebih dari penjara, dan bahwa dunia ini hanyalah sebuah tempat pengasingan.
Selma memandangiku, dan sinar matanya menyampaikan rahasia hatinya. Kemudian dengan lirih ia berkata, "Marilah kita pergi ke taman dan duduk di bawah pepohonan serta menantikan sang rembulan muncul dari balik pegunungan." Dengan patuh aku bangkit dari tempat duduk, namun aku segan.
"Tidakkah kau pikir kita lebih baik tinggal di sini sampai sang rembulan naik dan menyinari taman?" Dan aku melanjutkan, "Kegelapan menyembunyikan pohon-pohon dan bunga-bunga. Kita tidak bisa melihat apa pun." Kemudian ia berkata, "Jika kegelapan menyembunyikan pohon-pohon dan bunga-bunga dari mata kita, ia tidak akan menyembunyikan cinta dari hati kita ...)
Singkat cerita, setelah pertemuan itu bahkan seterlukanya hati Kahlil Gibran ia masih menjawab dengan sahaja; selayaknya penyair cinta yang menggunakan istilah hyperbola atas frasa-frasa kesedihan—tapi di posisi ini Kahlil Gibran benar-benar merasakan duka dari perasaannya yang sudah sangat patah—sebab baginya perasaan bahagia itu direnggut sudah oleh Tuhan dari hidupnya, dan fakta bahwa Selma-nya sebentar lagi akan menjadi kepunyaan orang lain;
( ... Besok, takdir menempatkan dirimu di tengah-tengah sebuah keluarga yang damai, namun takdir akan mengirimku ke dalam dunia pergolakan dan peperangan. Engkau akan berada di rumah seseorang yang mendapat kesempatan memperoleh banyak keuntungan lewat keindahan dan kebajikanmu, sementara aku akan menjalani hidup yang penuh sengsara dan ketakutan.
Engkau akan memasuki gerbang kehidupan, sementara aku akan memasuki gerbang kematian. Engkau akan diterima dengan ramah, sementara aku akan berada dalam kesepian; namun aku akan membangun sebuah patung cinta dan memujanya di lembah kematian. Cintalah satu-satunya yang akan menjadi penghiburku, dan akan kuminum cinta bagai anggur dan kukenakan ia bagai sehelai jubah.
Di hari fajar, Cinta akan membangunkanku dari tidur nyenyak dan membawaku ke padang yang jauh, dan di hari siang akan menuntunku ke bayang-bayang pepohonan, tempat aku bernaung bersama burung-burung dari terik matahari. Di hari petang, Cinta akan mengistirahatkan diriku sebelum matahari terbenam, untuk mendengar nyanyian selamat tinggal alam semesta kepada cahaya siang, dan akan menunjukkan padaku mega menghantu yang melayari langit. Di malam hari, Cinta akan memelukku, lalu aku akan tidur, memimpikan dunia surgawi tempat bersemayam sekalian arwah pecinta dan pujangga.
Di Musim Semi aku akan berjalan seiring dengan cinta di antara bunga-bunga violet dan melati dan mereguk tetes-tetes musim dingin yang tersisa pada piala bunga bakung. Di Musim Panas akan kubuat berkas-berkas jerami jadi bantal dan rerumputan jadi tempat tidur kami, serta langit lazuardi akan menyelimuti kami jika kami memandang bintang-bintang dan rembulan.
Di Musim Gugur, Cinta dan aku akan pergi berkelana ke kebun anggur dan duduk di samping tempat pemerasan anggur serta menyaksikan butir-butir buah anggur digunduli dari ornamen-ornamen emasnya, dan kawanan-kawanan burung yang sedang berpindah akan mengepak-ngepakkan sayapnya di atas kami. Di Musim Dingin kami akan duduk di tepi perapian membaca kisah-kisah masa lalu dan sejarah negeri-negeri yang jauh. Sepanjang hari-hari mudaku, Cinta akan menjadi guruku; dalam usia dewasa menjadi penolongku, dan di renta usia menjadi kesenanganku. Cinta itu, kekasihku Selma, akan menyertaiku hingga akhir hidupku, dan sesudah kematian pun tangan Tuhan akan menyatukan kami kembali ...)

Olehnya itu, judul cerita ini diberi nama Sayap-Sayap Patah. Bahkan, na'asnya setelah pernikahan Selma, Kahlil masih bersikap baik namun sudah sedikit cuek pada Wanita itu, seolah-olah keduanya tidak pernah memiliki tautan kasih apapun sebelumnya.
Singkat cerita, tibalah masa di mana Selma harus pergi selamanya usai melahirkan anaknya sendiri setelah pernikahannya dengan Mansour Bey Galib (orang yang dijodohkan dengan Selma). Tahukah kamu, apa yang lebih menyedihkan hati Gibran, dia masih rela kalau Selma diambil orang lain, paling tidak dia masih bisa melihat Wanita itu. Namun, kali ini bukan kepergian sesaat lagi yang dilakukan Selma, tapi berpulang pada Dzat yang sebenar-benarnya memberi nyawa—Selma pergi selamanya. Kematian Selma justru semakin memperburuk perasaan Kahlil Gibran di masa itu. Wanita impiannya tak akan pernah lagi kembali, mimpi-mimpinya terenggut oleh usia Selma yang tak berumur panjang.
Selebihnya, saya tidak bisa paparkan lebih lanjut karena terkesan akan spoiler ending cerita ini (eh, ini sudah spoiler, ya?!) Semoga tidak. Silakan baca langsung saja buku Sayap-Sayap Patah, saya lihat sih sudah ada versi terjemahan yang dibantu oleh Sapardi Djoko Damono. Ada di aplikasi IPUSNAS dan gratis sejauh ini. Kamu bisa langsung singgah di sana, meskipun harus antri lama karena banyak sekali yang menunggu untuk membaca cerita ini. Kamu harus aktif mengecek berulang kali, supaya tidak kehilangan kesempatan.
Sebenarnya ada banyak lagi karya beliau yang menarik untuk didiskusikan dalam tulisan ini semacam Sang Nabi, Sang Musafir, Sang Pujaan, Pasir dan Buih, Taman Sang Nabi, dsb. Namun, saya cicil saja dulu, semoga di bagian selanjutnya bisa saya bahas buku beliau yang lain. Tulisannya memang lumayan berat, akan terasa membosankan jika kamu malas membaca buku yang tiap paragrafnya dituntut untuk berpikir terlebih dahulu sebelum mendapat inti sari dari kalimatnya. Namun, kalau kamu punya ketertarikan dan tidak keberatan membaca kalimat yang kadang kurang familiar, kamu bisa membaca karya beliau. Saya pikir sekarang tulisan beliau sudah lumayan bagus jika dibaca dalam versi Bahasa Indonesia karena sudah mengalami fase penerjemahan berulang kali dan pasti telah lebih disempurnakan. Kalaupun ada yang berat-berat bahasannya, itu menurut saya karena dipengaruhi oleh latar pengetahuan Gibran yang juga belajar banyak tentang filsafat. Tapi, saya yakin kamu bisa paham asalkan bacanya fokus.
Tersebab yang demikian, kembali lagi tidak heran juga bahwa Gibran menjadi salah satu simbol dari kesusastraan, kalau kamu baca karyanya saya bisa yakin kamu akan kagum dan akhirnya bisa mengerti kenapa ia menjadi salah satu orang yang lumayan berpengaruh bahkan dengan diterjemahkannya karya beliau ke dalam 50 lebih bahasa di seluruh dunia.
Ketenaran Kahlil Gibran juga mengalami frekuensi kepopuleran yang masif hingga sekarang. Sebagaimana yang dituliskan oleh Mbak Dian (salah seorang pengguna Quora); yang demikian juga menegaskan kembali, alasan lain dari kepopulerannya adalah Gibran menawarkan spiritualisme universal yang bebas dogma sebagai lawan dari agama ortodoks. Dengan kata lain, ia tidak terikat pada dogma aliran atau agama manapun, sehingga tidak ada yang merasa tabu untuk membacanya. Visinya tentang spiritual tidak moralistik, tidak menghakimi sama sekali. Saya berani menjamin, meskipun saya Islam dan anda adalah penyembah Madoka-sama atau Dewa Jashin, kita berdua akan bersatu untuk mengakui bahwa syair-syair Kahlil Gibran itu indah (Sumber Quora; @Dianagustini).
Berdasarkan review Mbak Dian di atas, saya bisa mengambil sedikit kesimpulan bahwa karya Kahlil Gibran tidak akan pernah ada matinya sampai kapanpun, selagi masih ada manusia yang suka membaca dan menyukai karya-karya sastra masa lampau. Bahkan menurut saya di setiap peradaban baru di masa yang akan datang, membaca buku-buku beliau akan selalu memberikan wawasan baru terlepas dari bagaimana kamu memandang kehidupan, agama apa yang kamu anut, keyakinan seperti apa yang kamu jadikan pedoman, bahkan tidak akan mempengaruhi sefanatik apapun kamu terhadap kalangan/kubu tertentu. Intinya tulisan beliau itu universal. Ada sentuhan cinta tapi diselipi dengan konstruksi sosial yang bahkan masih relate dengan apa yang ada di masyarakat kita saat ini.
Kesimpulannya, karya sastra buatan Kahlil Gibran menjadikan banyak orang merasa jatuh cinta, pada setiap kesamaan cerita, pada cara Gibran merangkai kata, pada rasa-rasa yang diselipkannya antara isu sosial maupun ketidakberpihakan takdir dalam perjalanan hidup yang ia jalani. Serta berbagai konflik yang akhirnya menyebabkan fenomena baru (yang mungkin dulu terkesan tabu) hingga diangkatnya menjadi kiasan dalam kisah-kisah peradaban di masa dirinya hidup, sampai setelah ia wafat pun semua pemikiran itu abadi dalam tulisan dan namanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku: “Journey Of Souls” karya Michael Newton dan Korelasinya dengan Pandangan Ibnu Sina Terkait Konsep Jiwa

Implementasi Mitigasi Bencana di Indonesia; Berkaca pada Kesiapsiagaan Jepang dalam Menghadapi Bencana

Review Buku: “Bukan Eropa; Freud dan Politik Identitas Timur Tengah” karya Edward W. Said