Review Buku: “Journey Of Souls” karya Michael Newton dan Korelasinya dengan Pandangan Ibnu Sina Terkait Konsep Jiwa

Gambar
Saya menemukan sebuah bacaan buku menarik awal tahun ini tentang perjalanan jiwa. Daripada hanya saya simpan dipikiran, akan lebih baik saya bagikan kepada banyak orang untuk direkomendasikan. Olehnya, saya memutuskan untuk membuat review buku ini. Siapa tahu kamu tertarik, kamu dapat membaca catatan bedah buku edisi ke 8 berikut dengan seksama sampai akhir.  Buku yang akan saya bahas adalah; Journey of Souls oleh Michael Newton. Serta sedikit kesinambungannya dengan opini Ibnu Sina mengenai perjalanan jiwa.  Terlebih dahulu mari saya jelaskan kepada kamu siapa itu Michael Newton:  Michael Newton adalah seorang psikolog dan hipnoterapis Amerika yang dikenal karena penelitiannya tentang kehidupan antara kehidupan (Kehidupan antara kehidupan adalah konsep yang mengacu pada periode eksistensi jiwa antara kematian manusia dan kelahiran kembali manusia berikutnya. Jiwa tidak berakhir ketika tubuh mati, melainkan kembali ke dunia spiritual atau yang pada umumny...

Perjalanan Kesadaran: Sebelum Kelahiran dan Setelah Kematian

Saya senang sekali menulis edisi luapan pikiran yang kesekian kalinya ini. Sebab, saya menemukan banyak bacaan menarik beberapa minggu belakangan dan itu menguras energi saya sekali jika hanya saya pendam dipikiran, akan lebih baik saya salurkan dalam tulisan yang mungkin bisa memberikan orang lain pengetahuan baru.

Singkat cerita, saya berselancar di Quora, dan menemukan satu pertanyaan yang lewat di beranda bunyinya kurang lebih begini; “Apa filosofi yang paling kamu sukai?” dan saya mulai membaca semua jawaban pengguna sekaligus penulis Quora yang luar biasa sekali—bahkan selalu sukses membuat saya tercengang sekaligus sumringah karena dapat input baru lagi diotak dan tentu tidak pernah gagal dalam membuat saya merasa bodoh (karena sekeren itu, Bro, tulisannya. Sampai saya tidak kepikiran darimana asal pengetahuan tanpa batas itu mereka peroleh).
Nah, akhirnya saya sampailah dijawaban Mbak Anggie Hartono yang menerangkan tentang filosofi kesukaan beliau dari seorang filsuf sekaligus seorang teolog Islam yakni Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i atau lebih dikenal orang-orang dengan Imam Al-Ghazali.
Pada tulisan itu kurang lebih beliau membahas tentang filosofi Imam Al-Ghazali yang bunyinya; “Tidak ada yang tercipta dari ketiadaan, dan tidak ada keberadaan yang akan menjadi tiada.”
Wih, berat, ya? Itu juga yang muncul dalam pikiran saya pertama kali. Namun, setelah saya resapi setiap bait paragrafnya, ternyata seru juga, bahasa yang digunakan oleh Mbak Anggie dalam menjelaskan sudut pandangannya sangat sederhana.
Singkatnya, saya tertarik dengan pernyataan yang beliau tuliskan, saya simpulkan kurang lebihnya seperti berikut; ‘Kita ini sebenarnya sudah ada dari sebelum kita lahir. Kalaupun kita tidak lahir sebagai manusia, kita akan tetap ada di semesta ini dalam bentuk lain’.
Lalu ada komentar di posting tersebut yang menarik tentang kesadaran; “Secara materi kita tetap akan selalu ada hanya berubah bentuk menjadi debu, yang hilang adalah consciousness (kesadaran)”
Dan tanggapan ini; “Menarik nih soal kesadaran… kalo Kata Rene Descartes ‘Aku berfikir maka aku ada.’ Jadi, ada hubungannya dengan kesadaran atau consciousness itu ya. Nah sejauh yang saya tau dari filosofi Descartes tadi muncul statement lain seperti; Apa bukti bahwa yg kita alami saat ini nyata? Ada kemungkinan ini semua mimpi. Karena baik di mimpi atau di dunia nyata ketika kamu jatuh kamu merasakan sakit.”
Bagaimana? Seru? Ayo kita bahas.
Pernyataan-pernyataan di atas menurut saya cukup relate dengan penjelasan bahwa kita bermula dari ruh yang ditiupkan ke rahim Ibu, sehingga mampu melakukan perkembangan—let say pertumbuhan organ, yang setiap unsurnya memenuhi kriteria untuk menjadikan kita sebagai individu yang melekat dengan panggilan ‘manusia’.
Artinya, dalam kondisi masih berupa ruh itulah kita tidak tahu apakah sebenarnya kita sudah di katakan ‘ada’ atau ‘tidak’. Cuman, latar belakang yang menjadi sumber pengetahuan kita apakah kita sudah ‘ada’ atau ‘tidak’ sebelum kita dilahirkan ke dunia kan yang melandasinya kesadaran. Kita hanya tidak sadar bahwa kita sudah ada mungkin jauh sebelum kita berwujud manusia.
Berarti, indikator yang cukup menegaskan eksistensi kita di semesta ini adalah kesadaran itu sendiri. Kalau kita sadar, tandanya kita hidup! Cuman, yang menjadi pertanyaan saya, kan kita sebelum menjadi manusia ‘masih berwujud ruh’ kita tidak sadar bahwa kita sudah ada sebenarnya sebelum memiliki bentuk yang bisa melihat—dilihat, merasakan—dirasakan (kita setuju dulu, nih di sini). Nah, kalau semisal kita mati, apakah ruh kita tetap akan memiliki ‘kesadaran’ bahwa kita sudah mati? Atau, ingatan itu akan ter-restart lagi dari nol dan ruh kita menjadi ruh murni lagi kemudian ditiupkan ke janin Ibu-Ibu yang lain?! Kalaupun tidak seperti itu, apakah justru setelah kematian kita hanya seperti bangun dari mimpi?! Jadi, seolah-olah kesadaran itu kita peroleh saat kita sudah menjadi ruh lagi dengan keterangan tambahan bahwa ruhnya di sini sudah memiliki pengalaman dan latar belakang pengetahuan untuk tahu bahwa dia pernah hidup sebelumnya. Sementara, jasad kita membaur kembali menjadi tanah, dan digunakan untuk membentuk manusia lain. Paham tidak maksud saya?! Belibet ya, saya mau sederhanakan tapi bingung memilih kalimat yang tepat.
Ini bahasan yang menarik. Soalnya, cukup menambah kadar keimanan saya bahwa Tuhan atau sebut saja dalam agama saya yakni Allah SWT adalah sumber dari segala sumber kebenaran, sebab kuasa-Nya benar-benar tidak bisa dipaparkan bahkan cenderung di luar batas kemampuan akal dan pikiran. Di mana setiap aspek dari cara-Nya membentuk, meniadakan, dan memulai ulang kehidupan manusia sangat runyam sekali kalau dibahasakan.
Mungkin memang benar, bahwa kepintaran manusia pasti ada batasnya, sehingga yang demikian tidak akan bisa membuat kita mengerti secara menyeluruh tentang proses kita hidup di bumi apalagi terkait pertanyaan; apa yang sebenarnya ada sebelum semesta ini diciptakan?! Kenapa tatanannya amat sangat sempurna?! Sebesar apa eksistensi yang mampu mengatur jagat raya ini bahkan dari peradaban-peradaban masa lampau yang masih terus berkesinambungan sampai sekarang meskipun setelah sekian juta tahun berlalu, dan apa yang sebenarnya menghuni setiap sudut di luar angkasa sana yang luasnya bahkan tidak terdefinisikan itu.
Saya juga ikut berpikir akhirnya dengan pernyataan Mbak Anggie Hartono ini: “Saat kita menganggap sesuatu telah tiada, maka sebenarnya sesuatu itu hanya bertransformasi menjadi wujud lain; dan sesuatu yang kita kira belum ada ternyata sudah selalu ada tetapi dalam wujud lain pula.”
Saya juga membaca komentar-komentar postingan Mbak Anggie tersebut, dan ada yang menyempatkan untuk menanggapi dengan memberikan kutipan Al-Qur'an surah Al Insan ayat 1 yang bunyinya seperti ini;
‘هَلْ أَتَىٰ عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ حِينٌ مِّنَ ٱلدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Saya yang dengan jiwa penasaran dan kesok-pengentahuan ini akhirnya mencari apa maksud yang lebih mudah dipahami dari ayat ini—atau apa sebenarnya tafsiran Surah Al Insan ayat 1 tersebut sehingga punya maksud yang sama dengan tulisan Mbak Anggie. Singkat cerita bergegaslah saya membuka Google dan menemukan beberapa tafsiran yang cukup berhasil membuat saya tidak bisa berhenti berpikir (tafsiran ini dikutip dari tafsirweb.com) kurang lebih seperti berikut;
----
1. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia
“Telah berlalu waktu yang panjang atas manusia sebelum ruh ditiupkan padanya, di mana saat itu dia bukan merupakan sesuatu apa pun yang dapat disebut, dan tidak diketahui jejaknya.”
2. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram;
“Telah berlalu pada diri manusia masa yang panjang, sebelumnya ia tidak ada, tidak pernah disebut.”
----
Menarik sekali! Kalau semua pernyataan sebelumnya dibuat dalam perspektif saya—saya pikir ini sudah cukup menjawab rasa ingin tahu saya tentang bagaimana kehidupan sebenarnya ruh manusia sebelum ditiupkan ke janin. Kita di masa sebelum memulai kehidupan ini hanya berupa Nur Allah yang entah bagaimana ceritanya memiliki kesempatan untuk berkamuflase menjadi manusia setelah mengalami fase panjang. Sebagaimana yang dijelaskan oleh tafsir surah Al Insan ayat 1 yang saya lampirkan, yang cukup menegaskan bahwa kita sebenarnya sesuatu yang sudah ada, tapi tidak bernama, sesuatu yang pernah eksis di semesta ini tapi karena tidak memiliki kesadaran maka kita tidak meninggalkan jejak apapun sebelum kita terbentuk menjadi manusia.
Atau, jika mau lebih jauh dan luas lagi dapat diartikan sebelum adanya manusia, semesta ini mungkin sesuatu yang hampa atau justru kita hanya berupa kumpulan ruh yang tidak tahu akan berakhir menjadi manusia, gunung, bebatuan, debu, hewan, awan, hujan, bintang, air, dan segala bentuk lainnya yang menjadi ornamen pengisi jagat raya ini. Menghiasi setiap kehampaan semesta, lalu mungkin punah kembali dan menjadi sesuatu yang berbeda lagi di kehidupan selanjutnya.
Memang terlalu sulit untuk dimengerti, namun cukup menarik untuk diikuti. Kita tenggelam dalam banyak pola pikir dan cara pandang yang dibentuk oleh manusia. Ketika kita membaca satu buku, menonton satu film, melihat sebuah informasi, mendengar ucapan, kita secara tidak sadar tenggelam dan terikat dalam pemikiran dari apa yang kita baca, nonton, dan dengar itu. Sehingga, menstimulasi cara berpikir kita tentang sesuatu. Sama seperti saya saat ini, apa yang saya tuliskan sekarang di sebabkan saya terikat dalam satu perspektif tertentu. Di kesempatan lainnya, bisa saja perspektif ini berubah apabila ada lagi informasi baru yang saya dapatkan dan mampu melawan pernyataan yang sudah saya tuliskan.
Kesimpulannya, kembali lagi mengenai konsep kesadaran dan ketiadaan dapat terkait dengan pertanyaan tentang apa yang terjadi pada ruh sebelum lahir dan setelah mati. Beberapa pandangan spiritual dan agama meyakini bahwa ruh ada sebelum lahir, tetapi pertanyaan tentang ketiadaan muncul ketika seseorang meninggal. Apakah ketiadaan setelah kematian berarti akhir dari kesadaran ruh atau ada eksistensi lain setelahnya?! Ini secara tidak langsung bisa menjadi titik persilangan yang menarik antara pandangan manusia tentang kehidupan sebagai ruh dan pemahaman kita tentang diri, eksistensi, serta nasib ruh itu sendiri sebelum lahir dan setelah mati.
Penutup, karena tulisan ini terinspirasi dari tulisan Mbak Anggie Hartono di Quora, saya mau sertakan catatan beliau ini juga; ”Bahkan hal yang pertama kali diciptakan Allah itu kan Ruhul Qudus/Ruh Muhammadiyah (Ruhnya Muhammad SAW), itupun diciptakan dari Nur Allah, bukan dari ketiadaan. Saat Allah menciptakan Bumi, langit, gunung, Dia menciptakannya dari materi yg sebelumnya sudah ada. Karena memang itulah cara kerja Allah, semoga kita diberi pemahaman.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku: “Journey Of Souls” karya Michael Newton dan Korelasinya dengan Pandangan Ibnu Sina Terkait Konsep Jiwa

Implementasi Mitigasi Bencana di Indonesia; Berkaca pada Kesiapsiagaan Jepang dalam Menghadapi Bencana

Review Buku: “Bukan Eropa; Freud dan Politik Identitas Timur Tengah” karya Edward W. Said